Tuesday, September 1

Bersih Lingkungan SATUNAMA

Dear all,
Usulan bergotong royong membersihkan kompleks SATUNAMA, mendapat tanggapan sangat positif dari semua kawan di dalam acara review program 31/8 - 1/9/09. Kegiatan gotong royong ini perlu kita lakukan agar lingkungan tempat kita bekerja semakin bersih dan nyaman.

Untuk kegiatan awal akan dimulai setelah lebaran diorganisir oleh unit BMTS. Jika kegiatan ini berhasil baik, maka kegiatan akan diteruskan setiap satu bulan sekali.

Untuk hal-hal yang membutuhkan penanganan khusus seperti pada kasus mobil-listrik, akan diserahkan kepada pihak yang profesional. Mari membersihkan lingkungan kita. Kalo bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi




Tuesday, August 18

dari sepiring pisang

Sehari setelah peringatan kemerdekaan RI ke-64, Sore sekitar pukul 14.30 WIB,  Pak Surip seorang gardener sejati, datang ke West Office Building dengan membawa sepiring penuh pisang rebus hasil dari kebun kantor.  Hmm..Mantapp Pak Surip!!. Pisangmu membuat soreku bersemangat

By the way, ngomongin masalah pisang yang diambil dari kebun, sebetulnya ide sederhana ini  bisa jadi hebat manakala, pisang yang diambil dari kebun tersebut sungguh-sungguh dikelola. Idenya adalah, menanami setiap jengkal tanah di kebun/ tanah kosong dengan tananam pisang. Tanaman ini termasuk tanaman yang mudah tumbuh dan minim perawatan. Setidaknya ada dua manfaat nyata dari ide menanam pisang di kebun, pertama bagian dapur tidak harus repot mencari daun pisang karena di kebun sudah tersedian, dan jika pisang itu tidak laku dijual, acara pembagian pisang rebus gratis ala PMT (Program Makanan Tambahan) kepada staf bisa dilanjutkan, atau paling tidak dijadwalkan sebulan sekali. PMT ini pasti akan memotivasi teman-teman untuk bekerja lebih bersemangat, karena kebutuhan akan vitamin dan kalsium, terpenuhi dalam buah pisang. Laksanakan !

Thursday, August 6

produk lokal yang tetap banyak penggemarnya

Siapa bilang  lebih banyak penggemarnya Roti daripada Tiwul ?

Rabu sore, 5 agustus 2009 menjadi moment pembuktian bahwa rasa tiwul mampu menghipnotis lidah-lidah kawan-kawan divisi PEP. Ceritanya, sepulang dari melakukan pencarian data di BAPPEDA Gunung Kidul, Mbak Ani pulang dengan membawa oleh-oleh Tiwul dan Kripik Bayem yang dibuat ala kripik belut.

Mantap tenan, sesiang itu beberapa teman tidak beranjak sekedar untuk mencuil dan merasakan sensasi manis dan gurih dari kedua makanan tersebut. Setelah menikmati makanan khas tersebut, semangat kerja menjadi bertambah. Jadi siapa bilang tiwul dan kawan-kawannya mulai kehilangan penggemar.

contoh baik merawat aset lembaga

Mas Bagong nyemplung di bak mandi!!

Pagi ini contoh baik dalam merawat aset lembaga, sudah ditunjukkan oleh Mas Giyanto a.k.a Mas Bagong. Beliau langsung terjun ke bak mandi, setelah hari kemarin ( 5 Agustus 2009) mendapat complain dari Mbak Anik, mengenai kondisi bocornya bak kamar mandi di ruangan divisi Special Project.

Pagi ini, dengan membawa seperangkat alat bangunan berupa pemotong keramik, semen putih, sabut dan cetok dia bergegas membereskan keluhan tentang bocornya air. "Nat di bak ilang kabeh je mas" katanya kepada saya ketika tengah asyik menambal sambungan antar keramik dengan semen putih. Salut buat Mas Bagong, Respon cepat anda menjadi contoh bagi kami untuk memelihara aset lembaga.

Tuesday, August 4

Membangun Wawasan Bhinneka Tunggal Ika

Kegiatan seminar nasional membangun wawasan bhinneka tunggal ika melalui penanaman nilai-nilai agama merupakan kerjasama persatuan Taman Siswa, Institute Dialog Antar Iman (DIAN) interfidei dan jaringan islam kampus.(JaRIK).Kegiatan ini dilakukan di Pendopo Taman siswa, Jalan Taman Siswa, Senin 3 Agustus 2009.

Dalam sambutannya, ketua panita, Listia, menyampaikan “Agama akhir-akhir ini dipandang sebagai tantangan, oleh karena itu kerjasama antar warga penting untuk mempercepat negara Indonesia yang dewasa”.  Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini akan diadakan lokakarya untuk guru agama di Sleman dan Bantul antara 4 – 12 Agustus 2009.

Hadir sebagai pembicara seminar, Jend. TNI (purn) Tyasno Sudarto, Frans Magniz Suseno SJ, Putu Wijaya dan  M Agus nuryatno, Phd. Bertindak sebagai moderator adalah Elga Sarapung.

Agus Nuryatno, menyampaikan “ Para guru hendaknya mampu mengkontekskan kurikulum pendidikan dengan apa yang berlaku dalam  dunia nyata serta mempunyai daya kritis untuk   selalu menanyakan apakah apa yang diajarkan bermanfaat bagi peserta didik “. 

Sementara Tyasno Sudarto menyampaikan, “ Kebhinnekaan menjadi lemah karena masalah politik praktis, ekonomi dan sosial budaya. Jika keadilan ekonomi dan penghormatan terhadap warga negara tidak sama, bagaimana kebhinnekaan bisa dihayati ?. Saat ini seolah-olah yang memilik hak adalah orang-orang kaya”   untuk Tyasno menyampaikan kunci untuk mangatasi hal tersebut adalah perlunya mengacu pada pancasila, sehingga tidak ada benturan etnis dan agama, serta perlunya  pemimpin yang bermoral bersih dan merdeka jiwanya.

Frans Magnis Suseno, lebih banyak mengupas mengenai wawasan bhinneka tunggal ika dan harkat nilai-nilai keagamaan.

Putu Wijaya,mengungkapkan meskipun tidak ada masalah, hal-hal tentang  kebhinekaan seperti dalam seminar ini harus tetap dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.


Thursday, July 30

Kunjungan Alumni School of Peace

Oleh :

Lutfi Retno

Pada tanggal 24 Juli 2009 lalu, 21 peserta dari alumni School of Peace di India pada tahun 2006, 2007, dan 2008 datang ke Balai Pelatihan SATUNAMA di Duwet, Sinduadi untuk studi banding. Rombongan yang diorganisir oleh Anick HT, direktur eksekutif Indonesian Conference on religion and Peace ini berkunjung dalam rangka membuat jaringan dan mengembangkan kapasitas peserta di bidang community organizing dan capacity building.

“Kunjungan ini merupakan bagian dari workshop fundamentalism and reading our sacred text yang diselenggarakan oleh Interfaith Cooperation Forum (ICF) bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Masyarakat Dialog antar Agama (MADIA). Kami memilih SATUNAMA sebagai salah satu lokasi kunjungan karena School of Peace memiliki agenda tentang community development. Kami menganggap SATUNAMA sebagai salah satu lembaga yang konsisten peduli di wilayah hulu dengan cara mencetak kader, aktivis, dan pemikir multistakeholder melalui training-training dan pelatihan yang dibuatnya,” tutur Anick HT. Ia juga menambahkan jika panitia beranggapan SATUNAMA adalah lembaga yang sangat terorganisir sehingga peserta bisa belajar banyak dari pengelolaan organisasi dan pengelolaan programnya.

Peserta yang berasal dari Kamboja, New Zealand, Burma, dan dari berbagai daerah di Indonesia ini mewakili komunitas agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Penghayat. Mereka kemudian berdiskusi dengan Meth Kusumahadi, Ketua Dewan Pembina SATUNAMA yang juga mantan direktur SATUNAMA mengenai sejarah dan program-program lembaga.

“SATUNAMA memiliki berbagai program yang punya tujuan utama memperkuat civil society di Indonesia melalui penguatan nilai-nilai universal dan promosi demokrasi di masyarakat. Cara tersebut ditempuh melalui training, pendampingan, dan konsultasi. Program-program seperti air bersih, perpustakaan keliling, dan usaha kecil ini memiliki tujuan jangka panjang yang sama yaitu membuat masyarakat mandiri dan bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya,” tutur Meth.

Setelah berdiskusi selama kurang lebih tiga jam, peserta kemudian melanjutkan kunjungannya ke Masjid Ahmadiyah yang dianggap sebagai kelompok korban fundamentalisme, dan Pesantren Nurul Ummahat pimpinan KH Abdul Muhaimin yang mewakili pesantren moderat dengan agenda pengembangan jaringan dan agenda-agenda di bidang interfaith dan pluralisme. 


Tuesday, July 28

Refleksi Hari Anak


TENTANG ANAK-ANAK KITA... 

23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.

Banyak acara digelar di berbagai tempat

untuk memeriahkan Hari Anak dan sebagai wujud perhatian,

kasih sayang dan juga pengharapan pada anak-anak kita.

Berdasarkan Resolusi Konvensi Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa no 44 / 25 tahun 1989

 ada 31 ( tiga puluh satu ) hak anak. Hak itu antara lain :

hak untuk hidup,

hak untuk tumbuh dan berkembang,

hak untuk berekreasi,

hak untuk bermain,

hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan seni dan kebudayaan,

hak untuk bebas berkumpul secara damai,

hak untuk mendapat pendidikan. 

Anak-anak kita  berhak untuk mendapat curahan kasih sayang, perhatian

dan juga dukungan dalam menjalani kehidupan mereka,

dalam dunia yang semakin penuh dengan tantangan.

Anak-anak kita laksana kertas kosong yang putih..bersih

dan  kita sebagai orang tua ( yang lebih tua ) yang akan mengisi, menulis,

menggambar dan mewarnai kertas itu.

Anak-anak kita adalah pemilik kehidupan dan yang akan menghidupkan diri dan sesamanya.

 

Untaian kata-kata bijak Kahlil Gibran ( penyair dan filisof kelahiran Lebanon 1896) ini

mengingatkan kita sebagai orang tua. 

Anakmu bukanlah milikmu,

  lewat engkau mereka lahir namun tidak dari engkau.

Berikan mereka kasih sayangmu,

  tapi jangan kau sodorkan bentuk pikiranmu.

Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya.

Kaulah busur dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur.

  Sang pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,  hingga anak panah itu melesat...

jauh.... serta cepat !

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang pemanah,

sebab DIA mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat...

sebagaimana dikasihiNya busur yang mantap.

( Kahlil Gibran, 1896 – 1931 ) 

Selamat memperingati Hari Anak..

Selamat menebar cinta, kasih dan sayang  pada anak-anak.

 

salam

tatiks